http://www.wartakota.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=9941&Itemid=45
BAYI penderita gizi buruk, Muhammad Rinaldi, meninggal dunia beberapa saat setelah dipaksa pulang oleh petugas Rumah Sakit Haji Jakarta (RSHJ), Jalan Raya Pondokgede, Jakarta Timur. Bayi berusia lima bulan ini pulang setelah sekitar sebulan dirawat di rumah sakit tersebut.
”Pengusiran” secara halus oleh rumah sakit diterima orangtua Rinaldi karena tidak mampu menyediakan biaya perawatan yang terus membengkak, mencapai Rp 10 juta. Kamis (30/10) malam, Rinaldi pun dibawa pulang. Keesokan paginya, bayi malang ini mengembuskan napas terakhir di rumahnya di Jalan Raya Tanjungbarat, Gang Tanjung No 1H, RT 06/04 Tanjungbarat, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Haryani (43), nenek Rinaldi, menuturkan, sejak sebulan lalu Rinaldi dirawat di RSHJ karena menderita gizi buruk dan demam berdarah dengue (DBD). Dari hari ke hari, kondisinya semakin buruk. ”Kita ngurus surat keterangan tidak mampu dan akhirnya dapat potongan setengah harga dari Rp 20 juta,” ujarnya. Jumlah sebesar itu pun tidak bisa dipenuhi oleh ibu Renaldi, Ariyati (26). ”Anak saya tidak bekerja, sedangkan suaminya menghilang sejak sebelum Rinaldi lahir. Kami tidak mampu menyediakan uang Rp 10 juta,” kata Haryani.
Asih Ahmadi (50), kakek Rinaldi, kebingungan mencari dana sebanyak itu. Ahmadi hanya pengojek dengan motor sewaan. ”Motornya saja boleh sewa, mana mungkin punya uang Rp 10 juta,” ujarnya. Ahmadi menawarkan diri menjadi petugas kebersihan di RSHJ untuk membayar biaya perawatan. Namun, katanya, pihak RSHJ menolak. Haryani juga mengatakan, sebulan lalu, saat Rinaldi sakit, cucunya itu sempat ditolak di tiga rumah sakit, yakni RS Budhi Asih, RS Polri Kramatjati, dan RS Pasar Rebo. Rinaldi kemudian diterima di RSHJ.
Menurut Haryani, pada Kamis lalu dokter Elly Deliana Wibowo, dokter yang menangani Rinaldi, menyarankan agar bayi itu berobat jalan saja. Selain itu, di hari tersebut, Rinaldi tidak diberi obat dan hanya didiamkan saja. Padahal kondisinya masih sangat lemah.
Dengan berat hati, Rinaldi pun dibawa pulang pada Kamis malam. Lantaran pembayaran belum lunas, KTP milik Ahmadi ’disita’ oleh RSHJ. ”BPKB motor juga diminta. Padahal motor itu motor pinjaman, mana mungkin saya punya BPKB,” kata pria asal Muntilan, Jawa Tengah, ini.
Setelah tiba di rumah, kemarin pagi sekitar pukul 09.00, Rinaldi meninggal dunia. Ariyati histeris menangisi anaknya. Dia menolak berkomentar kepada wartawan. Bagi Ariyati, ini adalah kali kedua ia kehilangan anak. Anak pertamanya juga meninggal saat masih bayi. Kemarin siang, jenazah Rinaldi dimakamkan di TPU Tanjungbarat.
Sangat parah
Ditemui Jumat sore, dr Elly Deliana Wibowo mengatakan bahwa saat masuk RSHJ, Rinaldi sudah dalam kondisi sangat parah. Tubuhnya kurang gizi dengan berat badan 4,5 kg, panas tinggi, buang air besar bercampur darah, sel darah putih tinggi, dan paru-paru sudah putih.
Menurut Elly, penanganan terhadap Rinaldi sudah dilakukan sesuai prosedur antara lain dengan memberikan obat-obatan dan susu yang berkualitas agar Rinaldi bisa cepat sembuh. ”Selama Rinaldi dirawat semuanya kami yang menangani karena ibunya nangis melulu. Justru nenek dan kakek Rinaldi yang bisa membantu kami merawat anak itu,” ucapnya.
Rinaldi menjalani perawatan intensif di RS Haji Pondokgede selama 20 hari. Bayi dari Jagakarsa ini tiga kali masuk ruang ICU. Lima hari sebelum diperbolehkan pulang, Rinaldi sudah lepas infus. Menurut Elly, meski berat badannya turun menjadi 4,1 kg, Rinaldi telah tertolong dan sembuh.
”Kalau lihat kondisinya waktu masuk ke rumah sakit, harapan hidupnya sangat kecil. Sebab bayi tersebut mengalami infeksi yang sudah menyeluruh,” kata Elly.
Lantas, mengapa Rinaldi meninggal? Menurut Elly, penyebab meninggalnya Rinaldi harus diteliti dengan cermat. ”Kita harus tahu dulu problem ketika di rumah. Banyak kasus bayi tersedak sehingga kurang oksigen dan bisa kejang-kejang. Kemungkin besar karena itu,” paparnya.
Sementara itu, Zr Inutiah, pejabat keperawatan, menjelaskan, saat Rinaldi masuk RSHJ, pihak rumah sakit tidak tahu apakah Rinaldi dari keluarga tidak mampu atau bukan. ”Mereka sempat bayar DP (uang muka) Rp 400.000. Setelah seminggu berjalan, mereka baru ketahuan dari keluarga tidak mampu. Cuma, saat itu, mereka tidak punya kartu Gakin. Akhirnya mereka kami sarankan membuat surat keterangan tidak mampu,” paparnya.
Menurut Inutiah, seharusnya orangtua Rinaldi terbuka dan memberi tahu sejak awal bahwa mereka adalah keluarga tidak mampu. Karena mereka terlambat memberi tahu, saat Rinaldi diizinkan pulang, surat keterangan tidak mampu (SKTM) keluarga Rinaldi masih diverifikasi di Dinas Kesehatan.
Menurut Inutiah, jika SKTM itu sudah diverifikasi, maka pemerintah yang akan membayar sebagian biaya pengobatannya. Misalnya, pemerintah menanggung Rp 15 juta maka yang Rp 5 juta ditanggung RSHJ sebagai bentuk tanggung jawab sosial. (sab/ded)



wah, cerita yang tragis. Say turut berduka cita semoga keluarganya diberikan ketabahan.
Sebagai seorang yang sedikit bergelut dengan kesehatan, saya menganggap kasus ini adalah sebuah kekeliruan sistematik. Begini telaah saya:
1. Pasien ini umur 5 bulan dengan BB 4.5 kg. Di KMS, umur 5 bulan kisaran berat badan 4.5 kg – 8.5 kg (plus minus 2 SD). Jadi kalau berat badannya 4.5 tepat dan umurnya 5 bulan tepat, maka bayi ini tepat di garis merah. Jadi bisa dikatakan kondisi gizinya hampir/sudah jatuh ke BGM (gizi buruk). Pertanyaannya, kenapa tidak terdeteksi? apakah ibunya rutin ke Posyandu?? ataukah anak ini ASI Eksklusif atau diberikan makanan yang tidak seharusnya diberikan?? ataukah anak ini memiliki penyakit bawaan (jantung) atau penyakit lain? seharusnya kondisi ini bisa diketahui dan dicegah secara awal dengan skrining di Posyandu. Kenapa? karena sekarang ini banyak masyarakat kita meremehkan manfaat dari posyandu..padahal monitoring bulanan adalah senjata yang efektif untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.
2. Pasien ini masuk dengan DBD dengan melena (berak darah) dan paru2 putih mungkin maksudnya efusi dan sel darah putih tinggi(SDP tinggi menandakan ada infeksi bakteri), jadi tidak hanya DBD semata, karena DBD penyebabnya virus, dan sedikit berhubungan dengan SDP. yang ada pada DBD adalah trombosit menurun drastis, pemeriksaan hematokrit meningkat, Hb normal atau menurun,dan gejala klinis yang mendukung.Jadi bayi ini terserang infeksi bakteri dan virus bersamaan. Jadi bisa disimpulkan dini (awal), kondisi bayi ini cukup berat.
3. Kondisi gizi yang kurang baik berhubungan dengan imunitas, apalagi kalau anak tidak disusui sejak dini (segera setelah lahir), maka status imunitasnya akan sangat lemah, dan rentan terhadap infeksi. Jadi kondisi ini sangat complicated.
4. Pasien ini pasien tidak mampu. Kenapa mereka tidak punya Askeskin/Jamkesmas? bukannya kalau benar tidak mampu sudah seharusnya menjadi tanggungan negara dan mendapatkan kartu Jamkesmas? dan dari beberapa rumah sakit yang dikunjungi malah rumah sakit non pemerintah? malah RS Haji, RS Budhi Asih, RS Polri Kramatjati, dan RS Pasar Rebo, bukannya ke PKM terdekat di daerah domisili untuk mendapat rujukan ke RS Kab/kota atau ke RSCM? Bukankah itu jalur yang seharusnya untuk berobat dengan Jamkesmas?
Jadi saya fikir kasus ini harus dilihat dari dua sisi yang berimbang, dengan kepala jernih dan dengan sumber2 yang kredibel dan acuan yang benar.
Tapi thanks udah sharing ya.
salam,
Diemen, Amsterdam
By: wiratara on November 5, 2008
at 3:51 am