<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Harus Bayar Rp 10 Juta  Akhirnya Meninggal</title>
	<atom:link href="http://socialindo.wordpress.com/2008/11/03/harus-bayar-rp-10-juta-akhirnya-meninggal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://socialindo.wordpress.com/2008/11/03/harus-bayar-rp-10-juta-akhirnya-meninggal/</link>
	<description>menyoroti kehidupan sosial indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Nov 2008 20:51:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: wiratara</title>
		<link>http://socialindo.wordpress.com/2008/11/03/harus-bayar-rp-10-juta-akhirnya-meninggal/#comment-10</link>
		<dc:creator>wiratara</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 20:51:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://socialindo.wordpress.com/?p=23#comment-10</guid>
		<description>wah, cerita yang tragis. Say turut berduka cita semoga keluarganya diberikan ketabahan.
Sebagai seorang yang sedikit bergelut dengan kesehatan, saya menganggap kasus ini adalah sebuah kekeliruan sistematik. Begini telaah saya:

1. Pasien ini umur 5 bulan dengan BB 4.5 kg. Di KMS, umur 5 bulan kisaran berat badan 4.5 kg - 8.5 kg (plus minus 2 SD). Jadi kalau berat badannya 4.5 tepat dan umurnya 5 bulan tepat, maka bayi ini tepat di garis merah. Jadi bisa dikatakan kondisi gizinya hampir/sudah jatuh ke BGM (gizi buruk). Pertanyaannya, kenapa tidak terdeteksi? apakah ibunya rutin ke Posyandu?? ataukah anak ini ASI Eksklusif atau diberikan makanan yang tidak seharusnya diberikan?? ataukah anak ini memiliki penyakit bawaan (jantung) atau penyakit lain? seharusnya kondisi ini bisa diketahui dan dicegah secara awal dengan skrining di Posyandu. Kenapa? karena sekarang ini banyak masyarakat kita meremehkan manfaat dari posyandu..padahal monitoring bulanan adalah senjata yang efektif untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.

2. Pasien ini masuk dengan DBD dengan melena (berak darah) dan paru2 putih mungkin maksudnya efusi dan sel darah putih tinggi(SDP tinggi menandakan ada infeksi bakteri), jadi tidak hanya DBD semata, karena DBD penyebabnya virus, dan sedikit berhubungan dengan SDP. yang ada pada DBD adalah trombosit menurun drastis, pemeriksaan hematokrit meningkat, Hb normal atau menurun,dan gejala klinis yang mendukung.Jadi bayi ini terserang infeksi bakteri dan virus bersamaan. Jadi bisa disimpulkan dini (awal), kondisi bayi ini cukup berat.

3.  Kondisi gizi yang kurang baik berhubungan dengan imunitas, apalagi kalau anak tidak disusui sejak dini (segera setelah lahir), maka status imunitasnya akan sangat lemah, dan rentan terhadap infeksi. Jadi kondisi ini sangat complicated.

4. Pasien ini pasien tidak mampu. Kenapa mereka tidak punya Askeskin/Jamkesmas? bukannya kalau benar tidak mampu sudah seharusnya menjadi tanggungan negara dan mendapatkan kartu Jamkesmas? dan dari beberapa rumah sakit yang dikunjungi malah rumah sakit non pemerintah? malah RS Haji, RS Budhi Asih, RS Polri Kramatjati, dan RS Pasar Rebo, bukannya ke PKM terdekat di daerah domisili untuk mendapat rujukan ke RS Kab/kota atau ke RSCM? Bukankah itu jalur yang seharusnya untuk berobat dengan Jamkesmas?

Jadi saya fikir kasus ini harus dilihat dari dua sisi yang berimbang, dengan kepala jernih dan dengan sumber2 yang kredibel dan acuan yang benar.
Tapi thanks udah sharing ya.

salam,

Diemen, Amsterdam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah, cerita yang tragis. Say turut berduka cita semoga keluarganya diberikan ketabahan.<br />
Sebagai seorang yang sedikit bergelut dengan kesehatan, saya menganggap kasus ini adalah sebuah kekeliruan sistematik. Begini telaah saya:</p>
<p>1. Pasien ini umur 5 bulan dengan BB 4.5 kg. Di KMS, umur 5 bulan kisaran berat badan 4.5 kg &#8211; 8.5 kg (plus minus 2 SD). Jadi kalau berat badannya 4.5 tepat dan umurnya 5 bulan tepat, maka bayi ini tepat di garis merah. Jadi bisa dikatakan kondisi gizinya hampir/sudah jatuh ke BGM (gizi buruk). Pertanyaannya, kenapa tidak terdeteksi? apakah ibunya rutin ke Posyandu?? ataukah anak ini ASI Eksklusif atau diberikan makanan yang tidak seharusnya diberikan?? ataukah anak ini memiliki penyakit bawaan (jantung) atau penyakit lain? seharusnya kondisi ini bisa diketahui dan dicegah secara awal dengan skrining di Posyandu. Kenapa? karena sekarang ini banyak masyarakat kita meremehkan manfaat dari posyandu..padahal monitoring bulanan adalah senjata yang efektif untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi.</p>
<p>2. Pasien ini masuk dengan DBD dengan melena (berak darah) dan paru2 putih mungkin maksudnya efusi dan sel darah putih tinggi(SDP tinggi menandakan ada infeksi bakteri), jadi tidak hanya DBD semata, karena DBD penyebabnya virus, dan sedikit berhubungan dengan SDP. yang ada pada DBD adalah trombosit menurun drastis, pemeriksaan hematokrit meningkat, Hb normal atau menurun,dan gejala klinis yang mendukung.Jadi bayi ini terserang infeksi bakteri dan virus bersamaan. Jadi bisa disimpulkan dini (awal), kondisi bayi ini cukup berat.</p>
<p>3.  Kondisi gizi yang kurang baik berhubungan dengan imunitas, apalagi kalau anak tidak disusui sejak dini (segera setelah lahir), maka status imunitasnya akan sangat lemah, dan rentan terhadap infeksi. Jadi kondisi ini sangat complicated.</p>
<p>4. Pasien ini pasien tidak mampu. Kenapa mereka tidak punya Askeskin/Jamkesmas? bukannya kalau benar tidak mampu sudah seharusnya menjadi tanggungan negara dan mendapatkan kartu Jamkesmas? dan dari beberapa rumah sakit yang dikunjungi malah rumah sakit non pemerintah? malah RS Haji, RS Budhi Asih, RS Polri Kramatjati, dan RS Pasar Rebo, bukannya ke PKM terdekat di daerah domisili untuk mendapat rujukan ke RS Kab/kota atau ke RSCM? Bukankah itu jalur yang seharusnya untuk berobat dengan Jamkesmas?</p>
<p>Jadi saya fikir kasus ini harus dilihat dari dua sisi yang berimbang, dengan kepala jernih dan dengan sumber2 yang kredibel dan acuan yang benar.<br />
Tapi thanks udah sharing ya.</p>
<p>salam,</p>
<p>Diemen, Amsterdam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
